Distance Vector vs Link State

Terdapat 2 macam routing protocol, yaitu Distance Vector dan Link State.Distance vector menggunakan kalkulasi distance atau jarak serta outgoing interface untuk memilih jalur yang paling baik ke network tujuan. Contoh dari Distance Vector adalah RIP, IGRP, dan EIGRP. Link State memantau status dan tipe koneksi setiap link, kemudian membuat kalkulasi metric berdasarkan informasi tersebut. Contoh dari Link State adalah OSPF.

 

Screen Shot 2013-01-08 at 8.24.04 PM

Distance Vector sering juga disebut sebagai routing by rumor. Artinya dia akan memiliki informasi path berdasarkan rumor. Misalkan pada gambar diatas. Terdapat 4 buah router, A, B, C, dan D. A memiliki informasi network yang terhubung dengannya, misalkan 1.1.1.0/24. A akan melakukan advertisement ke B dan C mengenai network 1.1.1.0/24. B akan menerima advertisement tersebut dan menuliskan demikian di routing table “Untuk menuju ke 1.1.1.0/24, saya harus melempar ke A dan metricnya adalah xx” Nilai metric biasanya dikalkulasi dengan melihat faktor jumlah hop, bandwidth, delay, dll tergantung dari routing protocolnya (misalnya EIGRP akan melihat bandwidth, delay, mtu). C juga akan bekerja demikian setelah mendapatkan advertisement dari A. Proses selanjutnya B akan melakukan advertisement ke D, isinya demikian “Hey D, kalau mau menuju ke 1.1.1.0/24, kamu lempar saja ke saya. Saya tahu harus melempar kemana” C juga akan melakukan hal yang sama. Akibatnya D akan mendapat advertisement dari router B dan C. Router D akan mulai mengkalkulasi metric yang diperoleh dari B dan C. Kesimpulannya, D mengetahui informasi mengenai network 1.1.1.0/24 berdasarkan rumor dari B dan C. D sebenarnya tidak tahu network 1.1.1.0/24 berada dimana. D hanya tahu jika ingin menuju ke 1.1.1.0/24, cukup melempar ke B atau C.

Link State bukan merupakan routing by rumor. Setiap router di dalam link state routing domain memiliki informasi yang sama mengenai network secara keseluruhan. Kembali ke contoh diatas, D mengetahui bahwa 1.1.1.0/24 dimiliki oleh router A. D akan melakukan kalkulasi misalnya dengan algoritma shortest path first untuk menentukan jalur menuju ke A. D memiliki gambaran keseluruhan secara detail mengenai network map, kondisi setiap host, dan kondisi path yang akan dilalui.

Open Shortest Path First (OSPF)

Seperti penjelasan link state diatas, link state akan mengkalkulasi path menuju suatu node berdasarkan informasi. Informasi yang dipertukarkan adalah Link State Advertisement (LSA). Pada saat awal node akan melakukan konvergensi OSPF, seluruh node akan saling bertukar LSA sehingga terjadi flood dalam network. Proses ini dilakukan untuk menuju kondisi adjacencyantar node. Dalam kondisi adjacent, maka kedua node dapat saling bertukar LSA.

Alvianus–

ISMS (information security management system)

ISMS (information security management system) atau sistem manajemen keamanan informasi adalah istilah yang muncul terutama dari ISO/IEC 27002 yang merujuk pada suatu sistemmanajemen yang berhubungan dengan keamanan informasi. Konsep utama ISMS untuk suatu organisasi adalah untuk merancang, menerapkan, dan memelihara suatu rangkaian terpaduproses dan sistem untuk secara efektif mengelola keamanan informasi dan menjamin kerahasiaan, integritas, serta ketersediaan aset-aset informasi serta meminimalkan risiko keamanan informasi.

Standar ISMS yang paling terkenal adalah ISO/IEC 27001 dan ISO/IEC 27002 serta standar-standar terkait yang diterbitkan bersama oleh ISO dan IEC. Information Security Forum juga menerbitkan suatu ISMS lain yang disebut Standard of Good Practice (SOGP) yang lebih berdasarkan praktik dari pengalaman mereka. Kerangka manajemen teknologi informasi (TI) lain sepertiCOBIT dan ITIL juga menyentuh masalah-masalah keamanan walaupun lebih terarah pada kerangka tata kelola TI secara umum.

Information Security Management Maturity Model (dikenal dengan ISM-cubed atau ISM3) adalah suatu bentuk lain dari ISMS yang disusun berdasarkan standar-standar lain seperti ISO 20000,ISO 9001, CMM, ISO/IEC 27001, serta konsep-konsep umum tata kelola dan keamanan informasi. ISM3 dapat digunakan sebagai dasar bagi ISMS yang sesuai dengan ISO 9001. ISM3 berbasis pada proses dan mencakup metrik proses sedangkan ISO/IEC 27001 berbasis pada kontrol.

Apakah anda pernah memiliki pertanyaan mengenai perbedaan antara information security dengan risk management?, seperti misalnya, apakah risk management merupakan bagian dari information security atau information security merupakan bagian dari risk management?.

Apakah anda menyadari bahwa sebenarnya information security atau ISMS (information security management system) atau ISO 27000 adalah merupakan segala sesuatu tentang bagaimana melakukan manajemen risiko?.

ISO 27005 yang merupakan anggota dari keluarga ISO 27000 sebenarnya bukan merupakan risk management standard, ISO 27005 adalah merupakan standard untuk melakukan risk ANALYSIS.

ISO 27001 sebenarnya adalah merupakan suatu standard untuk melakukan risk management yang menggunakan ISO 27002 untuk panduan dari sisi security control, dan menggunakan ISO 27003 untuk panduan dari sisi implementasi, dan menggunakan ISO 27004 untuk panduan dari sisi pengukuran, dan menggunakan ISO 27006 untuk panduan audit…. dan sebagainya dan seterusnya.

Risk management di IT dapat dilakukan dengan cara melakukan implementasi ISO 27001 bersama-sama dengan standard lainnya yang ada di dalam keluarga ISO 27000.

Risk management life cycle terdiri dari empat kegiatan yang selalu terus berulang yaitu: risk identification, risk assessment, risk mitigation/control dan risk monitor.

Di dalam IT atau di dalam Information System (IS), risiko dapat diidentifikasi, dinilai, dimitigasi dan dipantau berdasarkan pada ISO 27002 yang merupakan “code of practice” untuk information security management categorizations sebagai berikut:

  • security policy,
  • organization of information security,
  • asset management,
  • human resources security,
  • physical and environmental security,
  • communications and operations management,
  • access control,
  • information systems acquisition, development and maintenance,
  • information security incident management,
  • business continuity management, and
  • regulatory compliance.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa di IT atau di IS, information security adalah risk management dan risk management adalah information security.

Seperti disebutkan di atas bahwa risk management life cycle terdiri dari empat kegiatan yang selalu terus berulang yaitu: risk identification, risk assessment, risk mitigation/control dan risk monitor, maka dapat dikatakan bahwa risk management tersebut adalah merupakan kerangka dari suatu risk management (termasuk IT risk management) dan information security, terutama information security control, adalah merupakan jiwa atau isi dari IT risk management.

Alasan lain yang mendukung bahwa information security adalah risk management, adalah bahwa pada information security ada kegiatan risk assessment. Jika melihat pada risk management life cycle, maka tentunya sebelum dilakukan risk assessment terlebih dahulu perlu dilakukan risk identification, begitu pula setelah dilakukan risk assessment tentu perlu dilakukan risk mitigation/control dan selanjutnya risk monitoring.

Apalagi dengan adanya istilah risk-based information securtity, tentu maksudnya adalah melakukan implementasi information security dengan menggunakan kaidah-kaidah risk management yaitu dengan menggunakan empat langkah yang ada di dalam risk management life-cycle.

Sehingga juga dapat disimpulkan bahwa information security control (contohnya ISO 27002) adalah “WHAT”-nya dan empat langkah yang ada di dalam risk management life-cycle adalah “HOW”-nya.

Mengoptimalkan Data Center, ‘Rumah’ bagi Teknologi Informasi

https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/08/15/398/162530_datacenter285.jpg
 
 

Jakarta – Sebuah data center bisa diibaratkan sebuah rumah untuk teknologi informasi. Data center berada di tengah-tengah setiap aktivitas yang berhubungan dengan teknologi, baik untuk penggunaan sehari-hari ataupun untuk bekerja.Mulai dari melihat email ataupun mengunduh musik dan aplikasi, menggunakan layanan dari situs-situs pemerintahan sampai mengakses aplikasi bisnis yang ditempatkan di cloud, data center menjadi penggerak dari setiap interaksi kita dengan teknologi.Data center sendiri sudah berkembang sedemikian cepat dalam beberapa tahun belakangan ini seiring dengan berubahnya kebutuhan para pengguna.

Dalam sebuah perusahaan, data center modern menjadi suatu hal yang terus-menerus disesuaikan dengan peluang-peluang bisnis baru dan membutuhkan pengelolaan biaya infrastruktur yang teliti dan cermat.

Cloud juga menjadi tren dalam pengelolaan data center. Banyak perusahaan memilih data center yang bersifat cloud untuk bisa memasang layanan baru dan mengkonsolidasikan infrastruktur yang sudah ada secara cepat dengan tujuan memaksimalkan return of investment (ROI) mereka.

Platform yang didesain untuk infrastruktur berjenis cloud bisa mengakselerasi pencapaian bisnis menjadi lebih cepat dibanding server, jaringan serta sistem penyimpanan tradisional yang berdiri sendiri.

Memastikan keberhasilan implementasi infrastruktur cloud memerlukan lebih dari sekadar teknologi data center yang paling canggih, misalnya jaringan yang memiliki cakupan luas, server yang bertenaga, kapasitas simpan yang lega, serta virtualisasi berkinerja tinggi. Semua itu memerlukan visi terhadap teknologi yang menyeluruh.

Ribuan konsumen mulai bergerak ke arah vendor yang bisa memberikan portofolio data center untuk enterprise yang didesain berdasarkan prinsip bahwa perangkat lunak dan perangkat keras dibangun untuk bisa bekerja bersama-sama.

Dengan demikian, perusahaan-perusahaan tersebut bisa memenuhi kebutuhan mereka akan perangkat teknologi enterprise yang mampu mengurangi risiko, memberikan kinerja tertinggi, dan mempermudah pemasangan serta pengelolaan.

Apabila perangkat keras dibangun bersama-sama dengan perangkat lunaknya, solusi tersebut akan memberikan kinerja yang paling tinggi dan tidak tertandingi oleh solusi industri lainnya.

Mengurangi Risiko dan Melindungi Investasi

Perusahaan-perusahaan yang sudah menggunakan teknologi-teknologi inovatif akan mendapat perlindungan yang paling aman untuk investasi mereka.

Lebih dari 50.000 pelaku bisnis serta institusi menjalankan lebih dari 11.000 aplikasi yang sudah mendapat sertifikasi untuk teknologi jenis ini.

Memindahkan infrastruktur yang sudah ada ke sistem operasi dan perangkat keras terbaru semakin mudah dengan adanya kombinasi dari kompatibilitas biner serta teknologi virtualisasi yang fleksibel.

Mengurangi Biaya via Konsolidasi

Virtualisasi dan komputasi awan sudah menjadi hal yang sangat penting dalam meningkatkan fleksibilitas dan mendukung kebutuhan akan layanan-layanan IT baru yang didorong oleh pertumbuhan bisnis.

Banyak sekali perusahaan yang memasang infrastruktur IT tervirtualisasi berbasis server jenis x86 dengan tujuan untuk mengurangi biaya dan memanfaatkan arsitektur sistem terbuka sehingga mereka bebas menggunakan berbagai pilihan vendor serta komponen perangkat lunak, antara lain untuk sistem operasi, perangkat lunak virtualisasi dan perangkat pengelolaan sistem.

Walau ada banyak perusahaan yang sudah melakukan konsolidasi atau virtualisasi sederhana, masih banyak potensi pada infrastruktur IT lainnya yang bisa dioptimalkan.

Konsolidasi dan virtualisasi memberikan berbagai keuntungan nyata, selain itu juga mampu membantu perusahaan dalam memulai upaya penghematan biaya serta meningkatkan kecepatan proses bisnis berkat komputasi awan.

Virtualisasi bisa memberikan tambahan penghematan biaya operasional di samping keuntungan-keuntungan yang didapat dari konsolidasi semata.

Dengan membuka jalan untuk berbagi-pakai sumber daya IT dalam suatu perusahaan, virtualisasi bisa mendorong tingkat daya guna (utilization) serta meningkatkan ROI secara signifikan.

Virtualisasi adalah teknologi utama yang digunakan dalam data center untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada. Seiring dengan kebutuhan IT untuk berevolusi, virtualisasi tidak lagi menjadi teknologi yang digunakan untuk memecahkan satu masalah saja.

Banyak perusahaan yang memulai optimalisasi sistem mereka menggunakan virtualisasi server untuk mengkonsolidasikan sistem dan mengurangi biaya modal/capital expenditure (capex).

Sebab sekarang staf IT diharuskan memberikan layanan on-demand, kebutuhan untuk virtualisasi datacenter sudah berkembang melebihi konsolidasi dan pengurangan capex saja.

Untuk bisa melakukan konsolidasi secara efisien, sistem baru harus memiliki kinerja, kapasitas, keamanan serta skalabilitas tinggi untuk bisa menopang kebutuhan kinerja aplikasi-aplikasi bisnis – bahkan ketika nanti aplikasi tersebut berubah dan berkembang seiring dengan waktu.

Menyederhanakan IT 

Sistem cloud yang menopang kinerja bisnis harus dilandasi kecepatan, fleksibilitas, dan keamanan yang dikombinasikan dengan skalabilitas serta kinerja yang prima.

Syarat-syarat sistem yang baik adalah memiliki virtualisasi built-in, pemasangan aplikasinya mudah, serta mendukung beban kerja mobile.

Lebih penting lagi, kendali atas seluruh kemampuan ini harus bisa diterapkan dalam pool komputasi dan sumber daya yang berskala besar. Supaya sesuai dengan persyaratan yang ada, sebaiknya juga tersedia fitur pengawasan serta pelaporan yang mudah digunakan.

Berkat perangkat lunak serta perangkat keras yang dibangun dan bekerja bersama-sama, pengelolaan sistem akan menjadi semakin mudah. Kinerja dan ketersediaan akan meningkat bersamaan dengan pengurangan biaya dan waktu untuk pemasangan.

Kemampuan yang unik ini memberikan keuntungan lebih banyak apabila vendor mampu membangun, menguji, mensertifikasi, memasang, mendukung dan memutakhirkan perangkat lunak serta perangkat kerasnya bersama-sama.

Bagi beberapa perusahaan, melangkah maju ke dalam data center generasi selanjutnya akan melibatkan pemindahan konten bisnis dari aplikasi serta platform yang sudah usang ke dalam lingkungan IT baru yang hemat biaya.

Tujuan akhirnya adalah mempertahankan aset aplikasi lama dengan mengubahnya ke dalam bahasa program, basis data serta layanan yang baru.

Dengan menyelaraskan tujuan data center menjadi sistem yang selalu tersedia, tidak kompleks dan hemat biaya, sesuai dengan tujuan bisnis, Anda akan memiliki data center yang siap untuk menangani segala tantangan di masa kini dan bisa berkembang bersama-sama dengan bisnis Anda demi menghadapi kesempatan-kesempatan yang datang di masa depan.

*) Penulis adalah Ron Goh selaku ASEAN VP Systems Sales Oracle Corporation

Infrastruktur Data Center – (Part 1)

dc_pic

Data Center 

atau Pusat Data merupakan  fasilitas yang digunakan untuk penempatan beberapa kumpulan  server  atau sistem   komputer   dan   sistem   penyimpanan   data  (storage)  yang   dikondisikan   dengan   pengaturan catudaya,  pengatur  udara,  pencegah bahaya kebakaran dan biasanya dilengkapi  pula dengan sistem pengamanan fisik.

Infrastruktur Data Center :
Merupakan perangkat yang digunakan pada system data center, berfungsi sebagai
kelengkapan kinerja data center tersebut, seperti…

  • – Ruangan yang tahan akan api
  • – Management kabel yang teratur
  • – Sistem keamanan perangkat yang sesuai
  • – Pendingin ruangan yang selalu terjaga

-=Ruangan Data Center=-

Suatu bangunan / fasilitas yang digunakan sebagai tempat pusat suatu system data . Fasilitas tersebut harus terjaga kesinambungannya agar suatu system data tidak mengalami gangguan baik dari segala faktor.
Beberapa ruangan yang sering dipergunakan pada infrastruktur data center adalah:

  • – Ruang Server
  • – Ruang Network
  • – Ruang Power
  • – Ruang NOC
  • – Ruang Staging area
  • – Ruang library, dll
hal tersebut dikarenakan setiap ruangan mempunyai fungsi dan kegunaan yg berbeda.

-=Design Data center yg ideal=-

Kriteria perancangan sebuah data center secara umum antara lain adalah:
Ketersediaan Data center diciptakan untuk mampu memberikan operasi yang berkelanjutan dan terus-menerus bagi suatu perusahaan baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan terjadinya suatu kerusakan yang berarti atau tidak. Data center harus dibuat sebisa mungkin mendekati zero-failure untuk seluruh komponennya.
Scalability dan FlexibilityData center harus mampu beradaptasi dengan pertumbuhan kebutuhan yang cepat atau ketika adanya servis baru yang harus disediakan oleh data center tanpa melakukan perubahan yang cukup berarti bagi data center secara keseluruhan.
SecurityData center menyimpan berbagai aset perusahaan yang berharga, oleh karenanya sistem keamanan dibuat seketat mungkin baik pengamanan secara fisik maupun pengamanan non-fisik.
Kriteria tersebut diaplikasikan pada beberapa aspek berikut:

ASPEK ASPEK MELIPUTI-LOKASI

  • Berada di luar radius mitigasi bencana/gunung berapi (>15km)
  • Tidak berada dalam jalur patahan geologi
  • Jika merupakan data center untuk Disaster Recovery, minimum berjarak > 40km dari data center utama
  • Cukup tersamarkan dari pengenalan publik (tidak ekspose)

-SARANA PENUNJANG

  • Generator listrik cadangan
  • Catuan PLN, dengan minimum 2 sumber pembangkit yang berbeda untuk tier tinggi
  • Uninterruptible Power Supply (UPS), dengan baterai berkapasitas memadai yang mampu menyediakan pasokan daya sebelum Genset dihidupkan
  • Pengatur udara (HVAC, Heating, Ventilation, and Air Conditioning), yang mampu menjaga suhu dan kelembaban
  • Sistem Pentanahan (Grounding), tahanan pentanahan terintegrasi < title=”Ohm” href=”http://id.wikipedia.org/wiki/Ohm”>ohm
  • KOMUNIKASI
  • Memiliki koneksi komunikasi data network lebih dari 1 sumber dengan lebih dari 1 operator untuk tier tinggi
  • Jika diperlukan, penyiapan koneksi komunikasi data dapat menggunakan akses satelit
  • Penyiapan jalur komunikasi untuk kordinasi dan komando, misal menggunakan Radio HF/SSB
  • Pengamanan jalur komunikasi untuk menjaga confidentiality suatu data /informasi

-=Infrastruktur Keamanan Data Center=-

Terdiri dari sistem pengamanan fisik dan non-fisik pada data center. Fitur sistem pengamanan fisik meliputi akses user ke data center berupa kunci akses memasuki ruangan (kartu akses atau biometrik) dan segenap petugas keamanan yang mengawasi keadaan data center (baik di dalam maupun di luar), pengamanan fisik juga dapat diterapkan pada seperangkat infrastruktur dengan melakukan penguncian dengan kunci gembok tertentu. Pengamanan non fisik dilakukan terhadap bagian software atau sistem yang berjalan pada perangkat tersebut, antara lain dengan memasang beberapa perangkat lunak keamanan seperti access control list, firewall, IDS dan host IDS, fitur-fitur keamanan pada Layer 2 (datalink layer) dan Layer 3 (network layer) disertai dengan manajemen keamanan.

Juga Keamanan untuk system data center seperti

  • -WDS (Water Detection System)
  • -EMS (Enveromental Monitoring System)
  • -BMS (Base Management System)
  • -FM 200 (Gas Dicharge)
  • -CCTV ( Closed Circuit TeleVision)

-=Tier pada Data Center=-

Design data center berangkat dari kebutuhan yang ada, untuk kemudian didefinisikan berbagai perlengkapan IT yang diperlukan beserta pemilihan teknologi berbarengan dengan designs infrastruktur data center yang lain. Ada 4 tier dalam perancangan data center yang setiap tiernya menawarkan tingkat availabilitas yang berbeda disesuaikan dengan kebutuhan suatu data center menurut TIA 942 (Telecommunication Industry Association). Berikut diberikan tabel spesifikasi setiap tier pada data center:

PARAMETER TIER I -BASIC TIER II – REDUNDANT COMPONENTS TIER III – CONCURRENTLY MAINTAINABLE TIER IV – FAULT TOLERANT
Tingkat availabilitas 99.671% 99.741% 99.982% 99.995%
Sifat terhadap gangguan (terencana atau tidak) Rentan Agak Rentan Tidak rentan terhadap gangguan terencana (karena sudah ada skenario penanggulangan), namun masih rentan terhadap gangguan tidak terencana Tidak Rentan
Keadaanpower dancooling distribution Single path with no redundancy Single path with redundant component (N+1) Multiple power and cooling distribution path tetapi hanya satupath yang aktif, termasuk komponen yang redundant (N+1) Multiple active power and cooling distribution pathtermasuk komponen yang redundant 2(N+1)
Ketersediaanraised floor,UPS,generator Bisa ada maupun tidak Harus punya raised floor,UPS dan generator Harus punya raised floor, UPS dangenerator Harus punya raised floor, UPS dangenerator
Waktu implementasi 3 bulan 3-6 bulan 15-20 bulan 15-20 bulan
Downtimetahunan 28.8 jam 22.0 jam 1.6 jam 0.4 jam
Cara untuk melakukan maintenance preventif Harus dishutdownkeseluruhan Hanya untuk power pathdan beberapa bagian lain dari infrastruktur yang memerlukan prosesshutdown Memiliki kapasitas tambahan dan distribusi yang cukup untuk menampung beban yang dipunyai sistem utama ketika sistem tersebut di maintenance
Skala data center yang cocok dibangun Kecil Sedang Besar (skala enterprise) Besar (skala enterprise)

Pengertian N di atas mengacu kepada cacah komponen yang diperlukan agar seluruh pusat data dapat beroperasi pada beban penuh. Sebagai contoh, apabila pusat data pada beban penuh memerlukan 5 unit AC, maka pusat data tier-4 mempersyaratkan total 2(5+1)=12 unit AC, 7 diantaranya sebagai cadangan. Untuk tier-3, maka hanya diperlukan 6 unit AC, hanya 1 sebagai cadangan.

Sumber

STP atau Spanning Tree Protocol

Apa itu STP??.

Simple nya menurut saya, STP adalah protocol jaringan yang digunakan untuk mencegah looping ketika ada configurasi redundance pada jaringan.

Sebelum kita bahas STP lebih lanjut…kita lihat gambar dibawah :

Kasus nya : PC1 akan kirim data ke PC4…awalnya hanya ada Switch S2 dan S1

Masalahanya gimana kalau link switch S2 dan S1 putus ???

So,ditambahkanlah switch 1 lagi (S3) supaya ada jalur lain…atau disebut Switching
Redudancy

nah…maksud hati ingin ada jalur redundan…kok malah jadi begini…(see pictures below)

defaultnya apabila switch ingin kirim data, sedangkan switch ga tau  lewat port mana (anggep lah switch nya baru nyala, MAC Table alias CAM table nya masi kosong), yang terjadi adalah packet data itu akan mem-broadcast.

(gambar diatas mencontohkan PC1 mo kirim data ke PC4 dengan topologi yang sudah redundan)

broadcast S1 yang di terima oleh S3 pun akan diterusin ke S2 juga

nah, di S2 (karena ga tau mo kirim lewat mana) mem-broadcast ke S3 dan S1

nasib nya si S3 dan S1 juga sama…

alhasil S3 broadcast ke S1 (ga ke S2 lagi…kan dia yang ngirim), S1 juga broadcast ke S3 dan PC4

nah, S1 dapat nyampein pesan ke PC4, tapi celakanya karena itu broadcast…S1 juga kirim broadcast yang di terima dari S3 ke S2

broadcast S1 yang di terima oleh S3 pun akan diterusin ke S2 juga

switch S2 yang dapet 2 broadcast (dari S1 dan S3) akan reply broadcast lagi (broadcast S1 diterusin ke S3, dan sebaliknya, S3 diterusin ke S1)

terussss aja seperti itu……………….

nah, pas PC4 mo reply ke PC1…itu network udah looping dan in the matter of time…DOWN

time…DOWN

disinilah STP bekerja, STP itu dibuat untuk mengatasi Switching Loop

caranya ?? mem-blok salah satu port switch S1/S2/S3 diatas itu

nah…klo itu “jalur utama” mati (misal jalur S2 dan S1), si STP inilah yang akan membuka port yang di blok secara otomatis

klo linear topologi desainnya, ga perlu STP…yang perlu adalah klo uda membentuk “lingkaran” (bisa kotak, ato segitiga…ya sama aja lah)

wokeh…cukup sekian analoginya…(to be continue)

VLan (Virtual Local Area Network)

Assalamualakum Wr.Wb.

Alhamdulillah trining CCNA  semester 1-4 telah usai. Tapi semangat untuk terus belajar tidak akan pernah usai… \(^^)/.  cmungud..cmungud..eaa..

Be te we, dari sekian banyak materi yang dibahas, ada beberapa chapter yang menurut saya menarik untuk di pelajari lebih serius (biasanya saya akan semangat kalo ketemu ilmu yang begini.:D) Dan pada kesempatan kali ini saya akan memperkenalkan dan menuangkat sedikit kedalam tulisan. Salah satu chapter yang menarik menurut saya adalah Vlan atau Virtual LAN.

Apakah anda pernah mendengar apa itu Vlan ? . Vlan atau Virtual LAN , sekumpulan komputer yg saling terhubung dan berkomunikasi dengan sesama segment . Kalau bahasa pemahaman saya biasanya saya analogikan dalam kasus begini, ketika sebuah gedung memiliki jaringan misalkan network A berada di lantai 1 merupakan bagian HRD dan network B berada di lantai 2 merupakan bagian Marketing. Dan suatu ketika kita ingin menambahkan user di HRD tetapi lokasi user tersebut berada  di lantai 2 dalam hal ini milik si bagian marketing. Kasus ini mungkin tidak masalah apabila benar antara lantai 1 dan 2, bisa tarik kabel dari lantai 1 ke 2, permasalahannya bagaimana kalau antara lantai 1 ke lantai 100..:D.

Untuk itu di buatlah Vlan, dalam hal ini kita hanya perlu konfigurasi switch pada setiap lantai dan membaginya dalam segmen-segmen, ini diperlukan untuk membuat network dapat dikonfigurasi secara virtual tanpa harus menuruti lokasi fisik peralatan.

Pada konsepnya sebenarnya Vlan adalah permainan subneting yang terkonfigurasi di switch.

Saya gambarkan sebagai berikut :

vlan

Anggap kita sudah memahami bagaimana pembagian subnetting. Maka pertama Lakukan Pembagian IP dan Vlan :
1. 192.168.10.2   Vlan 10
2. 192.168.10.3   Vlan 10
3. 192.168.20.2   Vlan 20
4. 192.168.10.4   Vlan 30
5. 192.168.20.3   Vlan 20
6. 192.168.20.4   Vlan 20

Adapun untuk konfigurasi  Vlan nya adalah sebagai berikut :
Pada switch 1 dan 2 :
#Config t
#Vlan 10
#name hijau
#end
-Vlan 20 name kuning
-Vlan 30 name merah

#int fx/x   //port yang ke user.
#switchport mode access  //Memberikan access pada port ini
#switchport access vlan 10  //port ini di akses untuk vlan 10

…Lakukan pada semua IP di atas.

Kemudian kasus nya bagaimana cara menghubungkan user yang berada di switch 1 bisa terhubung ke switch 3, sedangkan pada contoh switch 1 terdapat 2 gateway?. Maka di gunakanlah trunking. Menurut pemahaman saya yaitu memberi akses vlan ke switch lain yang seharusnya 3 jalur tetapi di buat satu jalur.

Pada switch 3 :
#int f0/0
#switchport mode trunk //membagi jalur
#switchport trunk allowed vlan 10,10,20 //vlan yg masuk dari tiap jalur

#int f0/1
#switchport mode trunk
#switchport trunk allowed vlan 10,20,20

VTP dan STP
VTP (vlan Tranking Protocol) yaitu menurunkan configurasi dari parent ke child. Ini di gunakan untuk apabila switch yang digunakan banyak biasanya terdapat di jaringan besar, logikanya cukup menconfigure vlan di switch perent maka child nya akan mengikuti secara otomatis.

VTP ada 3 jenis : Server, Client, Transparant.

Jadi secara otomatis jaringan tersebut akan menunjuk switch mana sebagai server dan switch mana sebagai client berdasarkan konsep perent child tadi.

STP (Spanning Tree Protocol) yaitu digunakan untuk mencegah looping ketika ada configurasi redundance pada jaringan.
Untuk menentukan jalurnya ditentukan dengan cost dan nilai terkecil.
Namun pada teknis dilapangan menurut Pengajar saya (sebut saja pak nur.hehe) 2 protocol ini jarang sekali dijumpai, permasalahnnya VTP adalah fitur milik perangkat Cisco, sedangkan kasus nya dalam satu jaringan tidak semua perangkat menggunakan Cisco. Untuk itu saya tidak menjelaskan lebih lanjut..:D

Tambahan :

1. Secara default switch terconfigure Vlan 1.
2. Trunk memberikan akses vlan ke switch lain menjadikan 1 jalur/port.
3. Ketika ada user terdapat di switch yang tidak terconfigure vlan, atau biasanya terdapat pada hub. Maka di configure pada switch lain dengan menggunakan native vlan (frame untag).
4. Satu network boleh beda vlan, tetapi satu vlan tidak boleh beda network.

Demikian sedikit tulisan saya semoga bermanfaat bagi yg membaca.;)

Jenis – Jenis Routing Protocol

Protokol Routing adalah komunikasi antara router – router. Routing protokol mengijinkan router – router untuk sharing informasi tentang jaringan dan koneksi antar router. router menggunakan infformasi ini untuk membangun dan memperbaiki table routingnya.

Static Routing

Router meneruskan paket dari sebuah network ke network yang lainnya berdasarkan yang ditentukan oleh administrator. Rute pada static routing tidak berubah, kecuali jika diubah secara manual oleh administrator. Berikut ini adalah karakteristik dari static routing:

  • tidak akan mentolerir jika terjadi kesalahan pada konfigurasi yang ada. Jika terjadi perubahan pada jaringan atau terjadi kegagalan sambungan antara dua atau lebih titikyang terhubung secara langsung, arus lalu lintas tidak akan disambungkan oleh router.
  • konfigurasi routing jenis ini biasanya dibangun dalam jaringan yang hanya
    mempunyai beberapa router, umumnya tidak lebih dari 2 atau 3.
  • informasi routingnya diberikan oleh orang (biasa disebut administrator jaringan) secara manual.
  • satu router memiliki satu table routing
  • Jenis ini biasanya digunakan untuk jaringan kecil dan stabil

Gambar 2:

Dynamic Routing

Router mempelajari sendiri Rute yang terbaik yang akan ditempuhnya untuk meneruskan paket dari sebuah network ke network lainnya. Administrator tidak menentukan rute yang harus ditempuh oleh paket-paket tersebut. Administrator hanya menentukan bagaimana cara router mempelajari paket, dan kemudian router mempelajarinya sendiri. Rute pada dynamic routing berubah, sesuai dengan pelajaran yang didapatkan oleh router. Karakteristik dynamic routing:

  • informasi routingnya tidak lagi diberikan oleh orang (manual), melainkan diberikan oleh software.
  • apabila salah satu jalur yang ada mengalami gangguan atau kerusakan peralatan, maka router akan secara otomatis akan mencari ganti dari jalur yang tidak bisa dipakai lagi.
  • menangani jaringan yang lebih kompleks dan luas, atau jaringan yang konfigurasinya sering berubah ubah (koneksi putus-nyambung)
  • jaringannya cerdas (sudah menggunakan komputasi)
  • memerlukan routing protokol untuk membuat tablerouting dan routing protokol ini bisa memakan sumber daya komputer.

Gambar 3:

* Jenis – jenis protokol routing dibedakan menjadi dua yakni :
1. ClassFull protokol routing : Penerapan subnet secara penuh atau default. /24,/16,/8 artinya penggunaan kelas full dikonsep ini.
contohnya : RIP (Routig Information Protocol) adalah rtokol routing dinamik yang berbasis distance vector. RIP menggunakan prokol UDP pada port 520 untuk mengirimkan informasi routing antar router. RIP menghitung routing terbaik berdasarkan HOP. RIP membutuhkan waktuuntuk melakukan converge, RIP membutuhkan power CPU yang rendah dan memmory yang kecil daripada protokol yang lainnya.
Yang termasuk pada dynamic routing classfull adalah Rip V1, IGRD.
 # Rip V1 dimana semua alat di jaringan harus menggunakan subnet yang sama dan Rip V1 ini tidak mengirimkan uodate dengan informasi subnet didalamnya.
# IGRP (Interior Gateway Routing Protocol)  adalah merupakan distance vector IGP. routing distance vector mengukur jarak secara sistematis.
2. Classless protokol routing : Metode classless addressing(Pengalamatan tanpa kelas) saat ini mulai banyak diterapkan yakni dengan pengalokasian IP Address dalam notasi classless Inter Domain(CIDR). ClassLess protokol ‘memanjangkan’ standart skema IP Address class A,B,C dengan menggunakan subnet mask lenght sebagai indikasi bahwa router harus menerjemahkan IP netrwork.
contohnya : RIP v 2 dimana kemampuan yang di miliki untuk membawa informasi subnet, sehingga mendukung classless inter-domain routing(CIDR) yang mencari hop terpendek atau router terbaik.
Yang Termasuk Classless protokol routing :
#  IS-IS ( Intermediate System to Intermediate System)
# Rip V2
#OSPF merupakan sebuah routing protokol berjenis IGP yang hanya dapat bekerja dalam jaringan internal suatu organisasi atau perusahaan. OSPF juga merupakan routing protokol yang berstandart terbuka.
#EIGRP adalah Routing protocol yang hanya diadopsi oleh router cisco atau sering disebut sebagai proprierty protocol pada cisco. EIRGP ini hanya bisa digunakan sesama router cisco aja.
#BGP merupakan salah satu jenis routing protokol yang digunakan untuk koneksi antar autonomous system(AS), dan salah satu jenis routing protokol yang banyak digunakan di ISP besar (telkomsel) ataupun perbankan. BGP termasuk dalam kategori routing protokol jenis Exterior Gateway Protokol (EGP)
* Karakteristik, Kelebihan, & kekurangan protokol routing
1. Routing Information Protocol (RIP)
Karakteristik :
  •  Routing protokol distance vector
  • Metric berdasarkan pada jumlah lompatan (hop count) untuk pemilihan jalur
  • jika hop count lebih dari 15, maka paket dibuang
  • Update routing dilakukan secara broadcast setiap 30 detik.

Kelebihan :

  •  RIP menggunakan metode Tringgered Update
  • RIP memiliki timer untuk mengetahui kapan raouter harus kembali memberikan informasi routing. jika terjadi perubahan pada jaringan, sementara timer belum habis, router tetap harus mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan terrsebut (triggered update)
  • Mengatur routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link jaringan.

Kekurangan :

  •  Jumlah host terbatas
  • RIP tidak memiliki informasi tentang subnet setiap router
  • RIP tidak mendukung variabel length subnet masking (VLSM)
  • ketika pertama kali dijalankan hanya mengetahui cara routing ke dirinya sendiri (informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya berada.
2. Interior Gateway Routing Protocol (IGRP)Karakteristik :

  • Protokol routing distance vector
  1. Menggunakan composite metric yang terdiri atas bandwitch, load, delay, dan realibilty
  • Update routing dilakukan broadcast setiap 90 detik

Kelebihan :

  •  IGRP memiliki jumlaah hop maksimum sebanyak 255, dengan nilai default 100
  • IGRP emdukung organisasi banyaak orang dengan besar internetworks untuk menggatikan RIP dengan IGRP

Kekurangan :

  •  jumlah host terbatas

3. Open shortest Path Frist (OSPF)
Karakteristik :

  •  Protokol routing link – state merupakan open standart protokol routing yang dijelaskna di RFC2328
  • Menggunakan alogaritma SPF untuk menghitung cost terendah
  • Update routing dilakukan secara floaded saat terjadi perubahan topologi jaringan
  • Menggunakan protokol broadcast.
  • Antara RIP dan OSPF menggunakan di dalam Autonomous System (AS)

Kelebihan :

  1.  Tidak meghasilkan routing loop
  2. Mendukung penggunaan beberapa metriks sekaligus
  3. Dapat menghasilkan banyak jalur kesebuah tujuan
  4. Waktu yang diperlukan untuk konvergen lebih cepat

Kekurangan :

  • Membutuhkan basis data yang besar
  • Lebih rumit

4. Enchanced Interior Gateway Routing Protoccol (EIGRP)

Karakteristik :

  • Menggunakan protokol routing enchanced distance vector
  • Menggunakan cost load balancing yang tidak sama
  • Menggunakan algoritma kombinasi antara distance vector dan link – state
  • Menggunakan Diffusing Update Algoritma(DUAL untuk menghitung jaulur terpendek.

kelebihan :

  • Melakukan konvergensi secara tepat ketika menghindari loop
  • memerlukan lebih sedikit emori dan proses
  • memerlukan fitur loopavoidance

kekurangan :

  •  Hanya untuk router cisco

5. Exiterior Gateway Protocol (EGP)

Kelebihan :

  • Sangat sederhana dalam instalasi

Kekurangan :

  •  Sangat terbatas menggunakan topologi

Source

Meningkatkan kinerja Router dengan metode VLSM

VLSM adalah teknik yang memungkinkan administrator jaringan untuk membagi ruang alamat IP ke subnet yang berbeda ukuran, tidak seperti ukuran Subnetting. Untuk menyederhanakan VLSM adalah dengan memecah alamat IP ke subnet (beberapa tingkat) dan mengalokasikan sesuai dengan kebutuhan individu pada jaringan. Hal ini juga dapat disebut IP tanpa kelas pengalamatan. Sebuah classful menangani mengikuti aturan umum yang telah terbukti berjumlah pemborosan alamat IP.
Sebelum Anda dapat memahami VLSM, Anda harus sangat akrab dengan alamat IP struktur.
Cara terbaik Anda dapat mempelajari bagaimana subnet subnet (VLSM) adalah dengan contoh. Mari kita bekerja dengan diagram di bawah:

Melihat diagram, gambar tersebut memiliki tiga LAN terhubung satu sama lain dengan dua link WAN.

Hal pertama yang harus diwaspadai adalah jumlah subnet dan jumlah host. Dalam hal ini, sebuah ISP dialokasikan 192.168.1.0/24. Kelas C
  • HQ = 50 host
  • RO1 = 30 host
  • RO2 = 10 host
  • 2 WAN link
Kami akan mencoba dan subnet 192.168.1.0 / 24 untuk kesungguhan ini jaringan yang memungkinkan sejumlah total 254 host saya sarankan Anda mendapatkan akrab dengan tabel di bawah.
Mari kita mulai dengan HQ dengan 50 host, dengan menggunakan tabel di atas:
Disini meminjam 2 bit dengan nilai 64. Ini adalah yang paling dekat kita bisa mendapatkan untuk 50 host.
HQ – alamat 192.168.1.0 / 26 Jaringan
HQ = 192.168.1.1 Gateway alamat
192.168.1.2 alamat, bermanfaat Pertama
192.168.1.62 – alamat dapat digunakan terakhir. Jumlah total ruang alamat -192.168.1.2 untuk 192.168.1.62
192.168.1.63 akan menjadi alamat broadcast (ingat untuk cadangan alamat pertama dan terakhir untuk Jaringan dan Broadcast)
HQ Jaringan Topeng 255.255.255.192 – kami mendapat 192 dengan menambahkan nilai bit dari kiri ke nilai yang kami pinjam = 128 +64 = 192
Alamat HQ akan terlihat seperti ini 192.168.1.0 / 26
RO1 = 30 host
Kami meminjam 3 bit dengan nilai 32; ini lagi adalah yang paling dekat kita bisa mendapatkan jumlah host yang diperlukan.
RO1 alamat akan mulai dari 192.168.1.64 – alamat Jaringan
Sekarang kita menambahkan 32 ke 64 kami pinjam sebelumnya = 32 +64 = 96
RO1 = 192.168.1.65 Gateway alamat
192.168.1.66 – alamat IP Pertama digunakan
192.168.1.94 – alamat IP terakhir yang dapat digunakan
192.168.1.95 Broadcast address – address space total – 192.168.1.66 -192.168.1. 94
Jaringan Masker 255.255.255.224 Yaitu 128 +64 +32 = 224 atau 192.168.1.64/27
RO2 = 192.168.1.96 Jaringan alamat
Kami meminjam 4 bit dengan nilai 16. Itu yang paling dekat kita bisa pergi.
96 +16 = 112
Jadi, 192.168.1.97 Gateway-alamat
192.168.1.98 – alamat dapat digunakan Pertama
192.168.1.110 – alamat dapat digunakan terakhir
192.168.1.111 siaran
Tuan Jumlah total ruang alamat – 192.168.1.98 192.168.1.110 untuk
Jaringan Masker 255.255.255. 240 atau 192.168.1.96 / 28
WAN link = kita meminjam 6 bit dengan nilai 4
= 112 + 4 = 116
WAN link dari HQ untuk RO1 alamat jaringan akan menjadi 192.168.1.112 / 30:
HQ se0 / 0 = 192.168.1.113
RO1 se0 / 0 = 192.168.1.114
Masker untuk kedua link = 255.255.255 252 (kami punya 252 dengan menambahkan nilai bit kita meminjam yaitu.
124 +64 +32 +16 + 8 +4 = 252
WAN link 2 = 112 +4 = 116
WAN Link dari HQ untuk RO2 alamat Jaringan = 192.168.1.116 / 30
HQ = 192.168.1.117 subnet mask 255.255.255.252
RO2 = 192.168.1.118 Subnet mask 255.255.255.252
Misalnya jika Anda ingin memiliki subnet dengan 50 host maka Anda dapat dengan mudah melihat dari tabel bahwa Anda akan memerlukan ukuran blok 64. Untuk subnet 30 host Anda akan memerlukan ukuran 32 blok.
Subnet Prefix / CIDR
Subnet mask
Usable IP address/hosts
Usable IP addresses + Network and Broadcast address
/26
255.255.255.192
62
64
/27
255.255.255.224
30
32
/28
255.255.255.240
14
16
/29
255.255.255.248
6
8
/30
255.255.255.252
2
4

sumber : orbitkomputer

Menghitung Subnetting.

Penghitungan Subneting

Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.

Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.

Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:

Subnet Mask Nilai CIDR
255.128.0.0 /9
255.192.0.0 /10
255.224.0.0 /11
255.240.0.0 /12
255.248.0.0 /13
255.252.0.0 /14
255.254.0.0 /15
255.255.0.0 /16
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255.255.224.0 /19
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.240.0 /20
255.255.248.0 /21
255.255.252.0 /22
255.255.254.0 /23
255.255.255.0 /24
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C

Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?

Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).

Penghitungan: Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:

    1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
    2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host
    3. Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi total subnetnya adalah 0, 64, 128, 192.
    4. Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.

Subnet

192.168.1.0

192.168.1.64

192.168.1.128

192.168.1.192

Host Pertama

192.168.1.1

192.168.1.65

192.168.1.129

192.168.1.193

Host Terakhir

192.168.1.62

192.168.1.126

192.168.1.190

192.168.1.254

Broadcast

192.168.1.63

192.168.1.127

192.168.1.191

192.168.1.255

Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah:

Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B

Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B. Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah:

Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255.255.224.0 /19
255.255.240.0 /20
255.255.248.0 /21
255.255.252.0 /22
255.255.254.0 /23
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.0 /24
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

Ok, kita coba satu soal untuk Class B dengan network address 172.16.0.0/18.

Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0).

Penghitungan:

    1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
    2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214 – 2 = 16.382 host
    3. Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi total subnetnya adalah 0, 64, 128, 192.
    4. Alamat host dan broadcast yang valid?

Subnet

172.16.0.0

172.16.64.0

172.16.128.0

172.16.192.0

Host Pertama

172.16.0.1

172.16.64.1

172.16.128.1

172.16.192.1

Host Terakhir

172.16.63.254

172.16.127.254

172.16.191.254

172.16.255.254

Broadcast

172.16.63.255

172.16.127.255

172.16.191.255

172.16..255.255

Masih bingung? Ok kita coba satu lagi untuk Class B.Bagaimana dengan network address 172.16.0.0/25.

Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti 11111111.11111111.11111111.10000000 (255.255.255.128).

Penghitungan:

  1. Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet
  2. Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
  3. Blok Subnet = 256 – 128 = 128.
  4. Alamat host dan broadcast yang valid?

Subnet

172.16.0.0 172.16.0.128 172.16.1.0 … 172.16.255.128
Host Pertama 172.16.0.1 172.16.0.129 172.16.1.1 … 172.16.255.129
Host Terakhir 172.16.0.126 172.16.0.254 172.16.1.126 … 172.16.255.254
Broadcast 172.16.0.127 172.16.0.255 172.16.1.127 … 172.16.255.255

Masih bingung juga? Ok sebelum masuk ke Class A, coba ulangi lagi dari Class C, dan baca pelan-pelan 

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS A

Kalau sudah mantab dan paham, kita lanjut ke Class A. Konsepnya semua sama saja. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita mainkan blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.

Kita coba latihan untuk network address 10.0.0.0/16.

Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti 11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).

Penghitungan:

  1. Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet
  2. Jumlah Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
  3. Blok Subnet = 256 – 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.
  4. Alamat host dan broadcast yang valid?

Subnet

10.0.0.0 10.1.0.0 … 10.254.0.0 10.255.0.0
Host Pertama 10.0.0.1 10.1.0.1 … 10.254.0.1 10.255.0.1
Host Terakhir 10.0.255.254 10.1.255.254 … 10.254.255.254 10.255.255.254
Broadcast 10.0.255.255 10.1.255.255 … 10.254.255.255 10.255.255.255

Mudah-mudahan sudah setelah anda membaca paragraf terakhir ini, anda sudah memahami penghitungan subnetting dengan baik. Kalaupun belum paham juga, anda ulangi terus artikel ini pelan-pelan dari atas. Untuk teknik hapalan subnetting yang lebih cepat, tunggu di artikel berikutnya 

Catatan: Semua penghitungan subnet diatas berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) dihitung secara default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005 tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa mengaktifkannya dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam beberapa buku tentang CCNA serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2

REFERENSI

  1. Todd Lamle, CCNA Study Guide 5th Edition, Sybex, 2005.
  2. Module CCNA 1 Chapter 9-10, Cisco Networking Academy Program (CNAP), Cisco Systems.
  3. Hendra Wijaya, Cisco Router, Elex Media Komputindo, 2004.

oleh: Romi Satrio Wahono :pendiri Brianmatics

OSI Model Standarisation.

Model referensi jaringan terbuka OSI atau OSI Reference Model for open networking adalah sebuah model arsitektural jaringan yang dikembangkan oleh badan International Organization for Standardization (ISO) di Eropa pada tahun 1977. OSI sendiri merupakan singkatan dari Open System Interconnection. Model ini disebut juga dengan model “Model tujuh lapis OSI” (OSI seven layer model).

Sebelum munculnya model referensi OSI, sistem jaringan komputer sangat tergantung kepada pemasok (vendor). OSI berupaya membentuk standar umum jaringan komputer untuk menunjang interoperatibilitas antar pemasok yang berbeda. Dalam suatu jaringan yang besar biasanya terdapat banyak protokol jaringan yang berbeda. Tidak adanya suatu protokol yang sama, membuat banyak perangkat tidak bisa saling berkomunikasi.

Model referensi ini pada awalnya ditujukan sebagai basis untuk mengembangkan protokol-protokol jaringan, meski pada kenyataannya inisatif ini mengalami kegagalan. Kegagalan itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

  • Standar model referensi ini, jika dibandingkan dengan model referensi DARPA (Model Internet) yang dikembangkan oleh Internet Engineering Task Force (IETF), sangat berdekatan. Model DARPA adalah model basis protokol TCP/IP yang populer digunakan.
  • Model referensi ini dianggap sangat kompleks. Beberapa fungsi (seperti halnya metode komunikasi connectionless) dianggap kurang bagus, sementara fungsi lainnya (seperti flow control dan koreksi kesalahan) diulang-ulang pada beberapa lapisan.
  • Pertumbuhan Internet dan protokol TCP/IP (sebuah protokol jaringan dunia nyata) membuat OSI Reference Model menjadi kurang diminati.

Pemerintah Amerika Serikat mencoba untuk mendukung protokol OSI Reference Model dalam solusi jaringan pemerintah pada tahun 1980-an, dengan mengimplementasikan beberapa standar yang disebut dengan Government Open Systems Interconnection Profile (GOSIP). Meski demikian. usaha ini akhirnya ditinggalkan pada tahun 1995, dan implementasi jaringan yang menggunakan OSI Reference model jarang dijumpai di luar Eropa.

OSI Reference Model pun akhirnya dilihat sebagai sebuah model ideal dari koneksi logis yang harus terjadi agar komunikasi data dalam jaringan dapat berlangsung. Beberapa protokol yang digunakan dalam dunia nyata, semacam TCP/IP, DECnet dan IBM Systems Network Architecture (SNA) memetakan tumpukan protokol (protocol stack) mereka ke OSI Reference Model. OSI Reference Model pun digunakan sebagai titik awal untuk mempelajari bagaimana beberapa protokol jaringan di dalam sebuah kumpulan protokol dapat berfungsi dan berinteraksi.

Struktur tujuh lapis model OSI, bersamaan dengan protocol data unit pada setiap lapisan

OSI Reference Model memiliki tujuh lapis, yakni sebagai berikut

Lapisan ke- Nama lapisan Keterangan
7 Application layer Berfungsi sebagai antarmuka dengan aplikasi dengan fungsionalitas jaringan, mengatur bagaimana aplikasi dapat mengakses jaringan, dan kemudian membuat pesan-pesan kesalahan. Protokol yang berada dalam lapisan ini adalah HTTP, FTP, SMTP, dan NFS.
6 Presentation layer Berfungsi untuk mentranslasikan data yang hendak ditransmisikan oleh aplikasi ke dalam format yang dapat ditransmisikan melalui jaringan. Protokol yang berada dalam level ini adalah perangkat lunak redirektor (redirector software), seperti layanan Workstation (dalam Windows NT) dan juga Network shell (semacam Virtual Network Computing (VNC) atau Remote Desktop Protocol (RDP)).
5 Session layer Berfungsi untuk mendefinisikan bagaimana koneksi dapat dibuat, dipelihara, atau dihancurkan. Selain itu, di level ini juga dilakukan resolusi nama.
4 Transport layer Berfungsi untuk memecah data ke dalam paket-paket data serta memberikan nomor urut ke paket-paket tersebut sehingga dapat disusun kembali pada sisi tujuan setelah diterima. Selain itu, pada level ini juga membuat sebuah tanda bahwa paket diterima dengan sukses (acknowledgement), dan mentransmisikan ulang terhadp paket-paket yang hilang di tengah jalan.
3 Network layer Berfungsi untuk mendefinisikan alamat-alamat IP, membuat header untuk paket-paket, dan kemudian melakukan routing melalui internetworking dengan menggunakan router dan switch layer-3.
2 Data-link layer Befungsi untuk menentukan bagaimana bit-bit data dikelompokkan menjadi format yang disebut sebagai frame. Selain itu, pada level ini terjadi koreksi kesalahan, flow control, pengalamatan perangkat keras (seperti halnya Media Access Control Address (MAC Address)), dan menetukan bagaimana perangkat-perangkat jaringan seperti hub, bridge, repeater, dan switch layer 2 beroperasi. Spesifikasi IEEE 802, membagi level ini menjadi dua level anak, yaitu lapisan Logical Link Control (LLC) dan lapisan Media Access Control (MAC).
1 Physical layer Berfungsi untuk mendefinisikan media transmisi jaringan, metode pensinyalan, sinkronisasi bit, arsitektur jaringan (seperti halnya Ethernet atau Token Ring), topologi jaringan dan pengabelan. Selain itu, level ini juga mendefinisikan bagaimana Network Interface Card (NIC) dapat berinteraksi dengan media kabel atau radio.

source: wiki